|
Islam Wetu Telu dapat dipahami jika
kita secara rela menjadikan Islam sebagai salah satu bagian dari ruang
heteroglosia yang secara alamiah membutuhkan yang nilai dari tradisi lain
demi pengayaan dan pendewasaan dirinya. Sebaliknya, tradisi adat Wetu Telu juga dapat menerima
Islam sebagai sebuah cermin bagi pengembangan dirinya ke arah yang lebih
baik.
Berdasarkan
elaborasi ini, maka dalam konteks ini, pribumisasi Islam diharapkan mampu
melakukan secara simultan langkah invensi dan inovasi sebagai upaya kreatif
untuk menemukan, merekonsiliasi, dan mengkomunikasikan serta menghasilkan
konstruksi-konstruksi baru. Konstruksi tersebut tidak harus merupakan
pembaruan secara total atau kembali ke tradisi leluhur masa lalu secara total
pula, namun pembaruan yang dimaksud di sini adalah pembaruan terbatas sesuai
dengan prinsip al-’adah muhakamah (adat kebiasaan bisa
menjadi hukum). Jadi, sebuah invensi dalam konteks pribumisasi Islam tidak
dimaksudkan menemukan tradisi atau autentisitas secara literal, melainkan bagaimana
tradisi-tradisi lokal itu menjadi sesuatu yang dapat berdialektika dan
dimodifikasi ulang sesuai dengan konteks dimensi ruang dan waktu, sesuai
dengan kaidah taghayyur al-ahkam bi at-taghayyur al-azminah wa al-amkinah wa al-ahwal (hukum
dapat berubah karena adanya perubahan zaman, tempat dan kondisi).
Pribumisasi Islam, dengan demikian merupakan proses yang tidak pernah berhenti mengupayakan berkurangnya ketegangan antara norma agama dan manifestasi budaya. |
Translate
Tampilkan postingan dengan label Komunitas Adat Wetu Telu Bayan-Lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komunitas Adat Wetu Telu Bayan-Lombok. Tampilkan semua postingan
Kamis, 04 Juni 2015
PAROKIALITAS ADAT TERHADAP POLA KEBERAGAMAAN KOMUNITAS ISLAM WETU TELU DI DESA BAYAN LOMBOK
Langganan:
Postingan (Atom)