SELAMA MASIH ADA MALAM, KEMAKSIATAN TAK MUNGKIN DI-STOP. Itu diucapkan laki-laki muda
yang wajahnya cakep mirip bintang film India. Ia tampak asyik menyulut dua
linting cimeng. Di kamarnya yang sempit yang terletak di sebuah kampung yang
padat dan kumuh, hanya tiga kilo dari Cakranegara. Ia berjanji membawa mahasiswi atau pelajar SMU. ”Bila perlu ia bawa buku raportnya,” katanya
meyakinkan sambil tertawa keras. Ia
tak bohong. Tak berapa lama dua perempuan muda berkulit putih, umurnya sekitar
19 tahun, masuk ke kamar. Keduanya tampak akrab dengan ruangan itu. Untuk
basa-basi salah seorang ikut nyimeng. Tapi tak lama karena ia mengaku
kurang suka. Menurutnya, cimeng membuat lamban bergerak. Keduanya mengaku lebih
terbiasa sarapan bubur (sabu-sabu).
Singkat
cerita, laki-laki muda itu mulai bicara bisnis. Pertama-tama, ia minta beli
satu pahe (paket hemat) sabu-sabu yang harganya Rp 100 ribu. Katanya, ada hotel
di Mataram yang tarifnya Rp 120 ribu semalam. ”Kasih aja dia Rp 150 ribu,
cukup. Mau short time mau sampai pagi, tancap aja. Ini tarif teman,”
kata laki-laki itu berbisik....................................