Translate

Tampilkan postingan dengan label Tabloid RAKYAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tabloid RAKYAT. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Januari 2018

YAYAK YATMAKA

Pendidik Anak yang Pernah Buron

Rezim menghegemoni lewat jingle. Maka ia mencipta counter-jingle

Malam kian larut. Pengunjung acara bertajuk “Panggung Rakyat” di panggung terbuka Taman Budaya Mataram, berangsur-angsur susut. Seorang laki-laki berambut gondrong dan berperawakan kurus, terlihat sibuk membereskan sound system. Usai menggulung kabel, kakinya melangkah ke kerumunan orang yang sedang menonton anak-anak menggambar. Agaknya ada beberapa orang kawannya yang lama tak bersua. Ia menyapa dan menyalami. Suaranya agak serak, meski tetap hangat dan bersemangat. Ya, ia memang tak asing bagi kalangan aktivis Mataram.

Kamis, 28 Mei 2015

LOMBOK UNDERCOVER: DIMANA HINGGAPNYA KUPU-KUPU MALAM



SELAMA MASIH ADA MALAM, KEMAKSIATAN TAK MUNGKIN DI-STOP. Itu diucapkan laki-laki muda yang wajahnya cakep mirip bintang film India. Ia tampak asyik menyulut dua linting cimeng. Di kamarnya yang sempit yang terletak di sebuah kampung yang padat dan kumuh, hanya tiga kilo dari Cakranegara. Ia berjanji membawa mahasiswi atau pelajar SMU. ”Bila perlu ia bawa buku raportnya,” katanya meyakinkan sambil tertawa keras. Ia tak bohong. Tak berapa lama dua perempuan muda berkulit putih, umurnya sekitar 19 tahun, masuk ke kamar. Keduanya tampak akrab dengan ruangan itu. Untuk basa-basi salah seorang ikut nyimeng. Tapi tak lama karena ia mengaku kurang suka. Menurutnya, cimeng membuat lamban bergerak. Keduanya mengaku lebih terbiasa sarapan bubur (sabu-sabu).


Singkat cerita, laki-laki muda itu mulai bicara bisnis. Pertama-tama, ia minta beli satu pahe (paket hemat) sabu-sabu yang harganya Rp 100 ribu. Katanya, ada hotel di Mataram yang tarifnya Rp 120 ribu semalam. ”Kasih aja dia Rp 150 ribu, cukup. Mau short time mau sampai pagi, tancap aja. Ini tarif teman,” kata laki-laki itu berbisik....................................

Perajin Gitar dari Ampenan Lombok



Bagi para pemain musik lokal, membeli beberapa alat musik murah bukanlah perkara sulit. Di Lombok, ada perajin gitar bolong (akustik) hingga gitar listrik, cello, gambus atau biola. Banyak juga jenis alat musik lainnya  yang bisa diproduksi perajin lokal. Para perajin itu menjamin, soal kualitas bunyi atau nada –bahkan daya tahan alat-alat musik itu—tak kalah dengan buatan Surabaya atau Solo. “Kita hanya kalah penampilan luar,” kata Soephendy, perajin biola yang tinggal di Sandik, Gunung Sari. Bagaimana cerita tumbuhnya para perajin alat musik ini dan cara mereka memasarkan produknya?.....................................

Rabu, 27 Mei 2015

HIKAYAT SI NASI BALAP LOMBOK

 Dari Karang Tapen sampai Otak Desa

Suara kering bel sepeda ontel para penjual keliling nasi balap seperti berpacu dengan geliat pagi di Kota Mataram. Di sejumlah warung pinggir jalan, di sekolah, dekat kampus, kantor pemerintah, bungkusan nasi balap yang biasanya disiapkan sambal tomat, menanti minat sarapan pagi. Semula nasi balap memang beredar di pagi hari. Nasi balap bermenu sederhana : beberapa cuil daging, ati, tempe iris, sedikit sayuran, kadang-kadang ada juga kelapa goreng, dan tentu saja sambal tomatnya itu loh. 

Belakangan, penjual nasi balap ini kian mudah ditemui di sudut-sudut kota. Sejumlah pasar kaget bermunculan. Konsumennya beragam. Dari yang bersandal jepit, mahasiswa, dosen, hingga yang bermobil pun kerap ditemui antre mengerumuni si penjual nasi balap di pinggir jalan. Para penjual nasi balap itu mulai yang bersepeda ontel hingga di kios dan warung pinggir jalan, menjawab hidup yang kian mahal. Ikuti laporan wartawan RAKYAT,  yang beberapa pekan keluar masuk kampung mengintip aktivitas mereka.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Reparasi Tulang dari Leneng




 Mereka bukan montir yang bisa mereparasi kendaraan bermotor. Tapi keahliannya menyembuhkan tulang retak, tulang patah, bahkan tulang bengkok menjadi pulih seperti sediakala, tak ubahnya seorang montir. Mulanya mereka menjadi tumpuan kalangan kelas bawah atau masyarakat miskin yang tak mampu ke dokter spesialis tulang. Belakangan, orang-orang kelas berduit juga meminta mereka mereparasi tulangnya. Uniknya, mereka tidak mematok bayaran..............


Lalu Erwan, 24, punya rekor panjang soal patah tulang. Baru berusia tiga tahun, tangan kanannya patah. Waktu itu ia jatuh terguling dari jalan yang agak curam. Menjelang usia tujuh tahun, giliran tangan kirinya patah karena terjatuh dari ayunan. Seakan belum cukup, saat usianya menginjak 12 tahun tulang engkel kaki kirinya kembali patah setelah jatuh dari pohon kenari. Terakhir, tulang paha kanannya patah karena jatuh dari pohon randu saat ia duduk di kelas 2 SMU.
“Tak heran, kawanku menduga badanku yang ringkih begini karena sering mengalami patah tulang,” kata Erwan.
Cerita masa kecil itu sempat membuat orangtuanya nyaris putus asa. Betapa tidak, akibat rekor panjang patah tulang itu, orangtuanya khawatir tubuhnya jadi tak sempurna. Sebab ayah pemuda lulusan FKIP Unram ini, Lalu Kahar, tak sekali pun membawa anaknya ke dokter spesialis patah tulang.
Lalu kemana?
Tiap kali anaknya mengalami patah tulang, ia tinggal membawanya ke dukun patah tulang di Leneng, desa kecil di Kecamatan Praya, Lombok Tengah yang hingga kini dikenal menjadi alternatif pengobatan penderita patah tulang.

Kisah “Jamal” Antara Cek dan Cok

JAMAL, istilah yang popular di Pulau Lombok. Ceritanya sepanjang riwayat tenaga kerja Indonesia,  atau TKI. Jamal sinonim dari “janda Malaysia” merupakan julukan bagi perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya mengadu nasib sebagai TKI ke Malaysia.  Ada juga yang meledek dengan istilah “JATONG” alias janda sepotong. Terutama bagi yang sudah terlalu lama ditinggal. Maksudnya dari perut ke atas memang masih bersuami (tetap dapat kiriman uang belanja). Tetapi bagian bawah, kenyataannya sudah lama menjadi “janda”, kan. Meskipun uang kiriman dari Malaysia lancar, mereka kadung dipandang suka pacaran lagi.
“Habis yang datang cuma cek, mana cok-nya, kakak,” kata-kata genit itu sering jadi ledekan di Lingkungan Semayan Desa Semayan Kecamatan Praya–Lombok Tengah. Diantara mereka memang ada yang tergoda karena kesepian, manakala suami jauh dari pelukan. Benarkah istri-istri TKI Malaysia tak tahan menahan “haus” dan gampang minta “minum” laki-laki lain?.......................