Translate

Tampilkan postingan dengan label visit Lombok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label visit Lombok. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Mei 2015

HIKAYAT SI NASI BALAP LOMBOK

 Dari Karang Tapen sampai Otak Desa

Suara kering bel sepeda ontel para penjual keliling nasi balap seperti berpacu dengan geliat pagi di Kota Mataram. Di sejumlah warung pinggir jalan, di sekolah, dekat kampus, kantor pemerintah, bungkusan nasi balap yang biasanya disiapkan sambal tomat, menanti minat sarapan pagi. Semula nasi balap memang beredar di pagi hari. Nasi balap bermenu sederhana : beberapa cuil daging, ati, tempe iris, sedikit sayuran, kadang-kadang ada juga kelapa goreng, dan tentu saja sambal tomatnya itu loh. 

Belakangan, penjual nasi balap ini kian mudah ditemui di sudut-sudut kota. Sejumlah pasar kaget bermunculan. Konsumennya beragam. Dari yang bersandal jepit, mahasiswa, dosen, hingga yang bermobil pun kerap ditemui antre mengerumuni si penjual nasi balap di pinggir jalan. Para penjual nasi balap itu mulai yang bersepeda ontel hingga di kios dan warung pinggir jalan, menjawab hidup yang kian mahal. Ikuti laporan wartawan RAKYAT,  yang beberapa pekan keluar masuk kampung mengintip aktivitas mereka.
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lombok Khas: Dukun Suksesi Para Politisi

Paranormal atau –banyak diantara mereka—yang lebih populer disebut dukun, sudah diketahui berperan memuluskan jalan seseorang untuk naik pangkat. Dari pegawai atau karyawan biasa, naik menduduki jabatan eselon. Kalau sudah menduduki eselon, ingin naik ke eselon lebih tinggi. Atau setidaknya, ditengah situasi yang tak menentu, banyak diantara para pejabat yang minta ‘perlindungan’ dukun agar posisi jabatannya (di pos yang basah) tidak digeser.
Banyak cerita tentang para pejabat –termasuk di Lombok—yang mendatangi dukun sebagai jalan pintas untuk berbagai kepentingan. Cerita itu tentu saja bukan gosip. Salah seorang calon presiden partai baru yang perolehan suaranya tiba-tiba melejit pada Pemilu 2004, termasuk yang dekat dengan paranormal.
Paranormal di Lombok jangan dianggap enteng. Sebagian diantara mereka ada juga yang  pernah menjadi langganan Keluarga Cendana saat masih berkuasa. Waktu Orde Baru masih jaya, paranormal dari Lombok Timur itu dalam setahun bisa beberapa kali masuk ke Istana Negara untuk ’menasehati’ Pak Harto. Di Lombok sendiri, para pejabat yang mendatanginya juga sering ’dimandikan’. Tujuannya macam-macam, tapi yang sering tentu berhubungan dengan langgengnya posisi yang sedang didudukinya.  Atau kalau mengincar posisi yang lebih tinggi, juga datang minta untuk dimandikan.
Orang-orang yang mendatangi dan minta bantuan paranormal sering berkilah, upaya yang dilakukannya tak ada hubungannya dengan syirik. ”Kalau kita ke paranormal kan cuma ikhtiar. Kita tetap percaya yang bisa menentukan segalanya hanya Tuhan,” ungkap salah seorang pejabat.------------

Menu Ramadhan a la Dayen Peken

Bulan Ramadhan tiba, menahan haus dan lapar di siang hari. Hanya yang berpuasa akan menikmati lezatnya saat-saat berbuka. Berbuka puasa, akan lebih nikmat bila tersedia kue-kue asli Sasak. Siapa pernah menyantap sarimuka, laman, lapis bendera, susun ijo, wajik, kue lobak, klepon, talam nangka, cendul, putu mayang, abuk, putri mandi, poteng dan jaje tujak, dan masih banyak yang lain, akan tahu kayanya seni memasak orang Sasak. Apalagi juga mencicipi  masakan pelecing urap, pelecing ayam, olah-olah, ebatan, sate pusut, opor, rawon gedang, ares, gulai lemak atau reraon. Di halaman pusat perbelanjaan Ampenan Cerah Ceria atau ACC (sekarang Barata) atau di Pasar Kebon Roek di Ampenan, setiap bulan puasa puluhan pedagang menggelar makanan tradisional itu. Pedagang makanan itu, sebagian besar berasal dari kampung Dayen Peken, Ampenan Utara. Hanya sebagian kecil berasal dari kampung Telaga Emas yang lebih dikenal dengan nama Karang Kerem.----------



Jajan dan masakan Sasak pernah berjasa bagi pelukis kondang Lombok, I Wayan Pengsong. Ceritanya, waktu pelukis yang pandai memasarkan karyanya itu kedatangan kolektor lukisan dari Jakarta. Lepas magrib, Pengsong menerima telpon dari Hotel Sheraton Senggigi agar menjemput. ”Saya diajak makan malam dulu,” kisahnya.
Kolektor yang banyak menginvestasi benda-benda seni itu sudah bosan makan dengan menu di hotel. Tapi mau ngajak makan di restoran yang menyuguhkan fast food seperti KFC atau Mc Donald, tentu ditolak. Mau ngajak ke rumah makan yang menyuguhkan ayam taliwang, jangan-jangan nggak cocok. Akhirnya Pengsong berpikir gampang, lebih baik diajak makan di rumahnya.